Kamis, 07 Oktober 2010

Perbedaan Pistol dan Revolver

Kita tentu sering mendengar kata 'pistol' atau 'revolver'. Sayangnya, banyak diantara kita masih sering salah mengartikan pistol dan revolver sebagai sebuah kata yang mengandung arti sama. Bahkan, dibeberapa media cetak seperti koran, atau majalah masih sering ditemui kesalahan pengertian tersebut.

Kadangkala, pistol disebut sebagai FN, atau revolver disebut sebagai pistol, dll. Padahal keduanya merupakan jenis senjata genggam atau senjata laras pendek yang berbeda.
 

Senjata genggam atau senjata laras pendek lazim disebut 'firearms' atau 'handgun' sampai saat ini dikategorikan menjadi 2 jenis; yakni:
  1. Pistol
  2. Revolver
Membedakannya mudah saja. Pistol menggunakan magazine (penyimpan peluru dengan sistim pegas yang mendorong peluru naik ke ruang picu (chamber)). Sedangkan Revolver menggunakan penyimpan peluru dengan sistim putar (revolve) yang memutar peluru ke ruang picu (chamber).

Secara fisik, pistol terlihat lebih ramping, karena ruang penyimpan peluru biasanya ada di handgrip (pegangan) sedangkan revolver menyimpan peluru di bagian belakang laras.
Mana yang lebih baik, sampai saat ini tetap jadi perdebatan. Keduanya memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Hingga masalah mana yang lebih baik, akan kembali kepada penggunanya masing-masing. Pistol diyakini lebih cepat menembakkan peluru kedua, ketiga, dst. Revolver diyakini lebih cepat dalam proses pengisian ulang (reloading) ketika peluru habis.

Sejarah Revolver
Spesimen pertama dari revolver (dengan cara kerja yang sama dengan revolver yang ada saat ini) tercatat dibuat tahun 1680 di Inggris. Revolver ini bernama Snaphaunce Revolver. Senjata khusus yang dirancang dan dibuat untuk John Dafte.

Elisha Collier, mempatentkan rancangan Flinslock Revolver di Inggris, pada tahun 1818. Pada saat yang hampir bersamaan, rancangan yang nyaris sama dipatentkan oleh Artemus Wheeler di Amerika dan Cornelius Coolidge di Perancis. Siapa yang pertama, masih tidak terjawab sampai saat ini.

Samuel Colt, pada tahun 1830 (saat itu ia berusia 16 tahun) mulai merancang sebuah konsep senjata baru dengan sistim putar (revolve). Ia memperoleh patent untuk Revolving Gun di Inggris pada tahun 1835 dan di Amerika pada tahun 1836. Pada tahun tersebut, Ia juga mulai memproduksi revolving gun tersebut secara massal.

Pada tahun 1839, 1848 dan 1850, Samuel Colt terus mendaftarkan dan memperoleh patent atas konsep revolving gun-nya yang saat ini dikenal sebagai revolver. Dengan kepiawaiannya tersebut, banyak orang menyandangkan predikat penemu revolver terhadap Samuel Colt.



Sejarah PISTOL
Pistol, diyakini dirancang oleh Samuel Colt dan John Browning yang merancang pistol legendaris Colt 1911 pada tahun 1887. Rancangan senjata dengan sistim magazine tersebut awalnya didisain untuk tentara Amerika yang merasa kewalahan menggunakan revolver kaliber .38 dalam melawan perlawanan suku Moro di Philipines.

Dengan desain baru dan peluru berdiameter lebih besar (cal. 45), Pistol yang diambil dari bahasa Perancis 'pistolet' dirancang untuk memberikan daya hantam (stopping power) lebih besar ketimbang revolver caliber .38 yang saat itu digunakan oleh tentara Amerika.

Pada tahun 1906, desain-desain pistol yang dirancang oleh pembuat senjata Colt, Browning, Luger, Savage, Knoble, Bergmann, White-Merrill and Smith & Wesson, mulai diuji-cobakan di kemiliteran Amerika.

Salah satu rancangan, yakni milik Samuel Colt saat itu menjadi produk terbaik pada ujicoba yang dijalankan pada tanggal 3 Maret 1911. Model tersebut kemudian populer dengan nama Colt 1911 (ninetenth-eleven).

Pada ujicoba tersebut, pistol desain Colt tersebut lulus menembakkan 6000 peluru dengan penembakan terus-menerus per-100 butir peluru, dengan masa istirahat 5 menit, dan pembersihan pistol setiap 1000 peluru.

Setelah lulus ujicoba tersebut. Pistol tersebut diproduksi secara masal, dan diberi kode/seri Colt Model 1911-A1 (atau M1911-A1). Sejak saat itu, desain pistol tidak (atau belum) pernah berubah hingga kini. Colt 1911 tersebut, sering dijuluki "A Mother of All Pistol"

Jadi, kalau Anda melihat tulisan, e.q: "..ditemukan beragam senjata jenis FN dan revolver.." itu salah kaprah. Sebagian besar kita, orang Indonesia sering membahasakan 'pistol' sebagai 'FN'. Padahal FN adalah sebuah nama (merk) fabrikan senjata di Belgia, 'Fabrique Nationalle' bukan jenis senjata.

Istilah FN sering salah kaprah diartikan sebagai jenis senjata genggam. Padahal FN adalah merk pistol. Bukan jenis senjata. Sama seperti merk (fabrikan) senjata lain seperti Colt, Smith & Wesson, Winchester, dll. Fabrique Nationalle (FN) juga memproduksi banyak senjata lain seperti FN - FAL, FN - FNC, FN - Minimi, dll.

peralatan menembak







Rabu, 06 Oktober 2010

Senapan angin

Sebuah senapan angin buatan Jerman
Senapan angin adalah senapan yang menggunakan prinsip pneumatik yang menembakkan proyektil dengan menggunakan tenaga udara atau sejenis gas tertentu yang dimampatkan. Senapan angin biasanya digunakan untuk olahraga dan berburu binatang kecil seperti burung dan tupai, ukuran peluru yang dipakai biasanya juga tidak terlalu besar yaitu ukuran kaliber .177 atau 4,5 mm dan 5,5 mm biasanya terbuat dari bahan timah, meskipun begitu senapan ini bisa membunuh manusia kalau prosedur pemakaiannya keliru atau disalahgunakan.





Sejarah

Senapan angin dikembangkan pada saat Amerika Serikat sedang mengalami perang kemerdekaan melawan Inggris. Dikembangkan juga lebih lanjut pada saat perang sipil di Amerika bergejolak. Pada saat itu senapan angin dapat membunuh seekor anak sapi/lembu dalam jarak tembak 10 meter dibagian kepala. Mengenai jarak tembak, bergantung pada jenis senapan angin. untuk yang bertipe per memiliki jarak tembak efektif 30 hingga 40 meter (tergantung bahan dan kualitas per), untuk tipe pompa jarak tembak efektifnya adalah 40 meter(tergantung kekuatan memompa) dan tipe gas memiliki jarak tembak efektif 60 meter.
Namun penggunaan senapan ini di posisikan untuk senapan target maupun buru dengan ukuran smallgame, penggunaan di luar itu dianggap suatu kegiatan yang diluar ketentuan.


Senapan angin di Indonesia
Di Indonesia, salah satu merek yang terkenal akan presisi dan daya tembak mendekati senapan angin eropa adalah Sharp Dragon , sedangkan yang cukup mudah ditemui di pasaran serta metode produksinya mudah adalah Sharp Innova. Sharp Dragon dan Innova sebenarnya merupakan merek senapan angin yang diproduksi di Amerika dan Jepang sekitar dua dasawarsa yang lalu dan merupakan senapan angin yang cukup dapat diperhitungkan kualitasnya (menurut review para penggunanya). Kini merek Innova tersebut diproduksi di bawah lisensi (butuh informasi tambahan) oleh banyak produsen lokal di Indonesia, sedangkan merek Dragon sudah dipaten kan , dan diproduksi hanya oleh satu produsen di Pare, Kediri Jawa Timur.

Hobi senapan angin di Indonesia sendiri sudah memiliki sejarah yang panjang. Di Indonesia, senapan angin dengan kaliber 4,5 mm tidak memerlukan ijin. Sedangkan untuk kaliber 5,5 mm keatas memerlukan ijin. Pehobi airsoft di Indonesia sendiri banyak yang beralih ke senapan angin karena pelarangan airsoft oleh aparat berwajib yang terjadi belakangan ini. 

Jenis senapan angin: 
Senapan tipe per/pegas
Senapan angin yang memakai per untuk memompa udara untuk mendorong proyektil. Untuk yang bertipe per, senapan angin dibagi dalam:
  • tipe under lever,
  • side lever, dan
  • patah laras.
Pembagian tipe tersebut berdasarkan cara per di tekan sehingga senapan dalam keadaan terkokang untuk siap tembak.

Senapan angin yang memakai gas dalam tabung yang termampatkan
Gas sudah dipompa terlebih dahulu sebelum senjata akan digunakan.
1. Menggunakan tabung Gas CO2 kecil yang mana proyekstil atau pelet di dorong menggunakan tekanan yang Gas CO2 dari dalam tabung, tekanan yang dihasilkan tidak terlalu besar, biasanya di pergunakan pada pistol atau senapan angin dengan jarak tembak pendek +/- 10m.Pellets yg digunakan biasanya tipe diabolo.
2. Menggunakan udara tekan biasa disebut PCP (Pre Charge Peneumatic) memiliki tekanan yang besar antara 2.000 - 3.000 psi, dapat melontarkan proyektil atau pellet sampai kecepatan > 1.000 fps biasa digunakan pada small or medium hunting. bisa menggunakan tipe pellets semua jenis termasuk tipe pile driver yg membutuhkan tekanan angin tinggi diatas 1500psi untuk menghasilkan daya lontar peluru yg optimum.


Senapan tipe pompa
Senapan angin yang memakai pompa (pump action) untuk memampatkan udara lalu dilepas untuk melontarkan proyektil. Sedangkan untuk tipe pompa ada dua tipe cara pelepasan angin, yaitu :
  • Knock open valve dan
  • Dumping system
pada sistem Knock Open Valve digunakan pemukul/hammer seperti senjata api biasa pada bagian dalam dan untuk yang eksternal digunakan pelatuk yang mirip dengn pistol colt.Untuk Dumping system menggunakan klep yg dapat terbuka penuh pada saat trigger /pelatuk terpicu.Contoh senapan angin yg menggunakan Knock open valve yaitu Benyamin Sheridan,Titan,Falcon,Kalong,Kuda (dua terakhir lokal)dan untuk Dumping system yaitu Sharp Dragon,Innova,Ace,Shapto(lokal) Biasanya pada industri senapan angin dibeberapa negara menyamakan peraturannya mirip dengan senjata api. dan untuk mencegah senapan angin yang diproduksi secara rumahan/home industri di selewengkan pemerintah beberapa negara membatasi panjang laras terpendek yaitu minimal 45 cm/18" dari ruang proyektil untuk senjata api dan 12" untuk senapan angin.


Kaliber senapan angin
Senapan angin juga merupakan tipe senapan dengan beberapa kaliber. selain kaliber yang disebutkan diatas senapan angin juga dikembangkan kaliber yang lebih besar lagi.

Jenis jenis kaliber senapan angin :
  • .177" (4.5 mm) - kaliber paling umum, digunakan juga di lomba menembak Olimpiade ISFF, peluru ini mempunyai lintasan yang paling datar sehingga menjadikannya paling akurat.Tidak memerlukan ijin untuk memiliki senapan kaliber ini di Indonesia.
  • .20" (5.0 mm) - banyak digunakan di Eropa dan senapan merek Sheridan (USA).Mempunyai lintasan yang rata mirip .177 tapi mengirim lebih banyak tenaga.
  • .22" (5.5 mm & 5.6 mm) - kaliber paling umum untuk berburu, karena mempunyai energi yang cukup besar.Harus menggunakan ijin utnuk memiliki senapan kaliber ini di Indonesia.
  • .25" (6.35 mm) - kaliber umum yang paling besar, mempunyai tenaga paling besar pada saat tumbukan tetapi lintasannya sangatlah melengkung (parabola) sehingga hanya digunakan pada senapan dengan tenaga yang besar.
 Proyektil
Proyektil senapan angin memiliki beberapa jenis yang dibedakan dari bentuk kepala proyektil. Adapun jenis-jenis yang beredar sekarang adalah
  • kepala lancip (sharp point)
Biasanya proyektil jenis ini digunakan untuk menmbus sasaran yang relatif keras seperti tulang
  • kepala bulat (dome point)
Proyektil jenis ini digunakan secara umum untuk kegitan berburu, kelebihan proyektil jenis ini 
 memiliki akurasi yangbaik dan hasil perkenaan yang mematikan 
  • kepala rata (flat point)
Umumnya digunakan untuk perlombaan dimana sasaran yang ditembak adalah kertas, Flat poin, 
 menghasilkan lubang tembakan yang rata sehingga memudahkan dalam penilaian
  • kepala ganda.
  • kepala berlubang (hollow point)
Menimbulkan efek luka bukaan yang lebih besar dari diameter pelet

KODE ETIK BERBURU PERBAKIN SAPTA ETIKA

1. Saya akan selalu berusaha memelihara keamanan, ketertiban dan kesopanan dimanapun saya berburu.

2. Saya akan selalu berusaha mematuhi segala peraturan yang berlaku tentang berburu dan penggunaan berbagai senjata api terutama penggunaan senjata berburu dan cara-cara pengamanannya.

3. Saya akan berusaha dengan ajakan-ajakan dan cara-cara yang dapat meyakinkan agar yang berburu dengan saya juga mematuhi segala peraturan yang berlaku yang menyangkut perburuan, satwa yang dilindungi dan senjata api.

4. Saya akan selalu berusaha tidak menyia-nyiakan satwa hasil buruan saya.

5. Saya akan selalu berusaha menjadi pemburu yang terampil dan penembak yang mahir untuk dapat menjamin tembakan yang tepat tanpa menimbulkan penderitaan bagi satwa yang diburu.

6. Saya akan berusaha membantu usaha-usaha konservasi yang menjamin kelestarian satwa buruan dan kelangsungan olah-raga berburu bagi generasi penerus.

7. Saya akan selalu berusaha menjadi teladan bagi pemburu-pemburu remaja agar mau mengembangkan sikap dan keterampilan yang perlu dimiliki untuk menjadi pemburu yang baik.

Sejarah Berdirinya PERBAKIN

Didirikan tanggal 17 Juli 1960

Lapangan Tembak Gelora Bung Karno
Jl. Gelora Senayan, Jakarta 10270
Tel : (021) 5737128, 5719473
Fax : (021) 5733639
Email.: support@perbakin.org
Website: http://www.perbakin.org
Secara harfia kata menembak berarti dua hal :
  1. Melepaskan peluru dari senjata api
  2. Mengarahkan sesuatu kepada sesuatu
Dari kedua kata itu maka akan muncul 3 hal penting dari konsep menembak :
  1. Kebendaan, yaitu alat untuk menembak.
  2. Manusia yang merupakan subjek dari pemakaian alat
  3. Sasaran sebagai aktifitas objek dari menembak melalui senapan ataupun pistol
Dari ketiga pengertian konsep itulah maka dapat dilihat bahwa menembak merupakan kerja ide dan indera yang terhimpun dalam suatu waktu, suatu tempat, dan suatu reaksi yang semua terakumulasi dalam kerja menembak.
Bila dibanding dengan olahraga lain menembak terutama tembak sasaran merupakan satu kerja yang berkesinambungan antara aksi dengan reaksi. Dalam menembak, setiap petembak harus memiliki ketenangan, ketahanan, dan pengontrolan diri yang ditopang dengan fisik yang baik dengan keseimbangan besar yang terkontrol dan aktif.
Aktifitas, Ide, dan himpunan dari waktu, tempat, dan reaksi merupakan suatu bentuk dan syarat untuk dimulainya bekerjanya organ tubuh secara rahfia untuk melakukan gerakan atau aktifitas, karena itu menembak merupakan cabang olahraga yang harus berhasil mengakumulasi ide, waktu, tempat dan reaksi untuk berprestasi. Sebagai suatu cabang dari olahraga yang juga merupakan aktifitas budaya, maka menembak merupakan suatu aktifitas badan yang lahir dan besar dalam suatu konteks tertentu.
Di Indonesia, olahraga menembak diawali dengan terbentuknya ” NICG ” atau singkatan dari Perkumpulan berburu dengan menggunakan senjata api. Kemunculan NICG pada paruh pertama abad 20 dari segi politik dan ekonomi ada dua hal, yakni strategi politik kolonial dan strategi pendekatan keamanan kepada masyarakat. Kebijakan ini kenyataannya memberikan kesempatan besar pada perusahaan asing untuk menyewa lahan pertanian. Situasi inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa NICG harus ada, saat itulah mereka orang eropa yang ada di tanah air menjadikan lahan pertanian yang mereka sewa sebagai lahan berburu, kegemaran berburu ini juga memiliki andil besar dalam rangka lahirnya olahraga menembak.
PON I Solo tahun 1948, memang tidak menyertakan cabang menembak untuk dipertandingkan meski saat itu Persatuan Buru sebagai wadah para hobbies telah dibentuk. Mudah dipahami, karena menembak pada waktu itu dikonotasikan sebagai aktifitas kerja politik bukan aktifitas olahraga. Baru pada tahun 1950, menembak masuk kedalam cabang olahraga, ketika itu Didi Kartasasmita, Oisaid Suryanatanegara, dan kawan-kawan membentuk Perhimpunan Olahraga Perburuan Indonesia (PORPI) yang dimaksud sebagai hobies dan olahraga, singkatnya olahraga menembak ini cepat mendapat tempat dihati masyarakat tetapi menembak sasaran belum nyata langkahnya.
Angin segar tampaknya menerpa para hobies yang tak jauh dari kesehariannya, tiga perwira angkatan darat mengadakan pendekatan kepada PORPI untuk memecahkan masalah. Ketiga perwira itu adalah Mayjen Sungkono, panglima divisi brawijaya. Kolonel Soedirgo, komandan CPM seluruh Indonesia, dan Kol. Purnomo, Staff CPM.
Tanggal 25 Mei 1960, mengadakan pertemuan dan hasilnya adalah pernyataan bahwa perlu dibentuk organisasi menembak dan berburu yang baru untuk menggantikan PORPI. Hasil ini disampaikan ke Kementerian Olahraga bahkan saat itu pula, Kementerian Olahraga sedang mengadakan pemantauan pada Olimpiade Roma 1960 tentang apa dan bagaimana aturan resmi olahraga menembak. Maka dalam waktu singkat, tepatnya 17 Juli 1960 resmi didirikan Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia disingkat PERBAKIN yang peresmiannya dilakukan di Jawa timur.
Dengan terbentuknya perbakin maka ada tugas-tugas yang harus dijalankan perkumpulan ini antara lain membimbing, mengkoordinir, dan mengawasi perkumpulan-perkumpulan serta organisasi bidang menembak diseluruh Indonesia dan merencanakan dan meyelenggarakan kegiatan olahraga menembak. Tugas lain adalah menyebarluaskan tata cara secara teratur sesuai ketentuan perundang-undangan yang telah ditetapkan dari sinilah terlihat bahwa perbakin bukan sekedar wadah perhimpunan olahraga menembak namun juga sebagai wadah pengontrol para pemilik senjata api secara organisasi. Setelah itu setahun kemudian perbakin masuk wadah olahraga Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Mayjen Sungkono dipilih sebagai Ketua Umum PB-Perbakin yang pertama yang didampingi Abubakar Lubis, Soetrisno, Ir. Kunto Adji, Soedirgo, Sujanuji, Purnomo, dan Alibasa Saleh.
Langkah nyata yang semakin maju adalah dengan mengikut sertakan cabang olahraga menembak pada Asian Games 1962. Ivent ini menyertakan Leli Sampoerno, Ny. Sugodo, dan Cokro Kamary, Ergy Ismail, Lessy, Kisono. Meski mereka latihan seadanya dengan pelatih Niluen Stevanovic dalam waktu 6 bulan ada prestasi yang membanggakan karena Lely Sampoerno berhasil meraih medali perak untuk Free Pistol.
Ada dua masa kepengurusan yang menjadi era konsulidasi bagi PB Perbakin yakni kepengurusan Mayjen Sungkono tahun 1961 – 1967 dan kepengurusan Rusmi Nuryatin 1967-1969. Masa ini juga menjadi masa peletak program bagi PB Perbakin.
Hasil pembinaan prestasi tahun awal berdiri hingga periode kedua inilah yang menjadi jalan keberhasilan saat kepengurusan Suwoto Suhendar dari tahun 1969 – 1977 Perbakin terus berupaya maju dan tahun 1973 Ny. Lely Sampoerno pada PON VIII di Jakarta, berhasil memecahkan Air Pistol yang khusus diikuti pria. Nilai 372 yang sekaligus memecahkan rekor merupakan prestasi bagi atlet putri yang mengalahkan atlet pria.
Ada yang sangat menarik dari cabang menembak yakni masalah yang dari periode ke periode tetap sama dan solusi yang kerap pula identik dari periode ke periode tetapi lucunya itu-itu saja yang dilakukan mengapa begitu? Mantan Ketua Umum PB-Perbakin Edy Sudrajat pada wacana yang ditulis Menebar Program Menuai Prestasi mengatakan bahwa ada faktor staknasi dalam menyimpulkan jalan terbaik, apakah yang dapat dilakukan ?
Sebagai cabang olahraga yang notabenenya berada disatu induk keorganisasian yaitu KONI, cabang olahraga menembak selalu saja menghadapi permasalahan umum yang sama dari mulai kesulitan mendapatkan bapak angkat, dana pembinaan rutin, pembinaan atlet yang sering tidak beraturan, hingga kesulitan melakukan evaluasi hasil pertandingan karena memang yang mengikuti pun hanya itu-itu saja. Bahkan atletnya pun juga hanya itu-itu saja, bagaikan reuni bila hadir dalam event-event tertentu. Atlet yang puluhan tahun masih bercokol disini dan tak banyak wajah baru yang tampil dengan prestasi membanggakan.
Inilah kesulitan dan permasalahan umum dalam wilayah keolahragaan di Indonesia. Perbakin sebagai induk organisasi olahraga menembak di Indonesia yang sejak keberadaannya tahun 1960 sebenarnya telah menetapkan beberapa fisi, program, dan solusi startegi yang selalu saja menitikberatkan pada upaya menjadikan olahraga menembak itu sebagai olahraga yang tidak sekedar ekslusif namun bisa bersifat masal dan terorganisir. Sangat sulit berkembang bila Perbakin menjadi olahraga untuk golongan atau masyarakat tertentu. Untuk itu sulit maju sebab hanya dengan keterbukaan dan kebersamaan Perbakin akan menjadi cabang olahraga yang dikenal dan digemari masyarakat sehingga banyak atlet yang muncul dari rasa senang. Memang tidak selayaknya olahraga ini menjadi tampak menakutkan. Apalagi, bila pengurus yang bercokol sulit untuk berkomunikasi, hasilnya pasti jauh dari prestasi.
Memang banyak yang telah dilakukan seperti upaya pemantapan program kerja jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, kemudian peraturan dan revisi anggaran rumah tangga belum lagi setumpuk keputusan yang dikeluarkan. Semua menggambarkan betapa dinamisnya upaya untuk mengangkat cabang menembak sebagai olahraga yang dikenal dan gampang dimasyarakat langkah ini telah lama dilakukan tetapi kendala lain selalu datang saat konsep yang telah matang dijalankan, terputus oleh karya baru oleh pengurus baru, walaupun niatnya sama untuk meningkatkan prestasi. Mungkin ada metode terbaik yang menjadi solusi dari ruwetnya situasi. Ini semua bisa dilakukan bila dukungan mengalir dari semua pihak termasuk para birokrat namun bagaimana bisa dilakukan pendekatan kalau prestasi masih terbatas dan tidak mampu menyita perhatian masyarakat. Untuk itu diperlukan suatu sinergi keorganisasian yang sifatnya tidak saling mengandalkan. Pengurus Besar memang bukan struktur organisasi birokrasi yang menetapkan dan mengawasi program kerja tetapi PB adalah komponen terakhir yang menerima limpahan hasil kwalitas yang dilakukan cabang, klub, pengurus daerah dalam mendapatkan bibit atlet unggulan.
Orientasi yang terjadi dan ideal adalah dari bawah keatas dengan asumsi menyediakan sistem pelatih yang menyiapkan atlet-atlet untuk melakukan aktifitas prestasi. Mekanisme kerja ini tentu merupakan mekanisme ideal untuk tidak lagi berkutat pada masalah dana dan cara melakukan pembinaan, dan lain-lain.